Untuk mengawali pembukaan dalam kajian yang bersifat media ini,
maka perlu kami berikan sedikit uraian-uraian walaupun tak penting kiranya. Menyoal
realitas bagi kami adalah langkah awal untuk belajar filsafat itu sendiri. Salah
satu filsuf dari Yunani (kota Militos) Thales (bapak filsafat) mengawali proyek
filosofisnya dengan mencoba mengkaji dan menyoal realitas masyarakat pada
masanya yang tunduk akan hukum dewa dimana kita sebut dewasa ini sebagai mitos
dan digantikan oleh Thales dengan hukum kosmologis bahwa dunia ini bukanlah
cipta atau hasil karya dewa-dewa, melainkan dunia ini memiliki satu unsur yaitu
air.
*****
Lanjut, ada dan terdapat banyak hal disekeliling kita, baik
disadari atau tidak kita terkadang dan bahkan kita tidak mempersoalkannya.
Belajar filsafat adalah belajar menyoal realitas. "Realitas apa
saja". Walaupun pada kenyataannya tidak semua realitas kita persoalkan.
Maka disinilah posisi filsafat yang bersifat universal dimana kajiaannya
mencakup semua realitas baik yang bersifat fisik atau pun metafisik.
Selama ini mungkin telah kita ketahui bahwa objek kajian filsafat
yang bersifat material ada tiga, yaitu Tuhan, Manusia, dan Alam. Akan tetapi
jarang sekali kita menyoal, membahas, dan mengkaji hal-hal kecil yang jarang
kita temuai dan sadari seperti kopi, rokok, meja dst. Atau mungkin bagi mereka
yang belajar filsafat merasa sombong bahwa hal-hal yang demikian merupakan hal
yang wajar dan tak seharusnya dipersoal-kan. Padahal kalau kita mau
menyoal hal-hal kecil disekeliling kita dapat kita bidik dari sebuah namanya (mengapa
itu bernama kopi, rokok, dan meja?). Setelah itu coba kita gunakan proyek
filosofis yang dibangun oleh Edmund Husserl “Fenomenologi” dimana semboyannya
adalah Zuruck zu den Sachen selbst (kembalilah kepada benda-benda itu
sendiri). Artinya apa, Husserl mengajak kita kembali untuk memaknai dunia ini
walaupun kenyataannya manusia adalah makhluk yang tidak pernah bisa lepas dari
jejaring makna. Dengan begitu apa saja yang ada di sekeliling kita ini jika digali
kembali dengan pendekatan fenomenologi kita harus “membiarkan apa yang
memperlihatkan diri itu, dilihat dari dirinya sendiri, dengan cara dia
memperlihatkan diri dari dirinya sendiri”. Karena apa? Tidak semua hal kita
lihat apa adanya. Seperti tubuh yang sudah diinterpretasi oleh berbagai
disiplin ilmu tertentu baik ilmu kedokteran, sosial dst. Maka menyoal realitas dengan
fenomenologi adalah membiarkan hal itu (realitas itu) menampakkan diri sendiri
tanpa interpretasi.
Fenomenologi yang sepertinya mampu menggali realitas tidak menutup
kemungkinan bahwa pada akhirnya dia juga jatuh pada interpretasi. Karena pemahaman
adalah lorong yang tidak pernah selesai dan akan terus digali. Maka menyoal
realitas adalah menggali realitas itu sendiri. Dan belajar filsafat haruslah
diawali dari sana.!!!
Thank’s, 05 Mei 2015