Senin, 04 Mei 2015

Menyoal Realitas

Untuk mengawali pembukaan dalam kajian yang bersifat media ini, maka perlu kami berikan sedikit uraian-uraian walaupun tak penting kiranya. Menyoal realitas bagi kami adalah langkah awal untuk belajar filsafat itu sendiri. Salah satu filsuf dari Yunani (kota Militos) Thales (bapak filsafat) mengawali proyek filosofisnya dengan mencoba mengkaji dan menyoal realitas masyarakat pada masanya yang tunduk akan hukum dewa dimana kita sebut dewasa ini sebagai mitos dan digantikan oleh Thales dengan hukum kosmologis bahwa dunia ini bukanlah cipta atau hasil karya dewa-dewa, melainkan dunia ini memiliki satu unsur yaitu air.
*****
Lanjut, ada dan terdapat banyak hal disekeliling kita, baik disadari atau tidak kita terkadang dan bahkan kita tidak mempersoalkannya. Belajar filsafat adalah belajar menyoal realitas. "Realitas apa saja". Walaupun pada kenyataannya tidak semua realitas kita persoalkan. Maka disinilah posisi filsafat yang bersifat universal dimana kajiaannya mencakup semua realitas baik yang bersifat fisik atau pun metafisik.
Selama ini mungkin telah kita ketahui bahwa objek kajian filsafat yang bersifat material ada tiga, yaitu Tuhan, Manusia, dan Alam. Akan tetapi jarang sekali kita menyoal, membahas, dan mengkaji hal-hal kecil yang jarang kita temuai dan sadari seperti kopi, rokok, meja dst. Atau mungkin bagi mereka yang belajar filsafat merasa sombong bahwa hal-hal yang demikian merupakan hal yang wajar dan tak seharusnya dipersoal-kan. Padahal kalau kita mau menyoal hal-hal kecil disekeliling kita dapat kita bidik dari sebuah namanya (mengapa itu bernama kopi, rokok, dan meja?). Setelah itu coba kita gunakan proyek filosofis yang dibangun oleh Edmund Husserl “Fenomenologi” dimana semboyannya adalah Zuruck zu den Sachen selbst (kembalilah kepada benda-benda itu sendiri). Artinya apa, Husserl mengajak kita kembali untuk memaknai dunia ini walaupun kenyataannya manusia adalah makhluk yang tidak pernah bisa lepas dari jejaring makna. Dengan begitu apa saja yang ada di sekeliling kita ini jika digali kembali dengan pendekatan fenomenologi kita harus “membiarkan apa yang memperlihatkan diri itu, dilihat dari dirinya sendiri, dengan cara dia memperlihatkan diri dari dirinya sendiri”. Karena apa? Tidak semua hal kita lihat apa adanya. Seperti tubuh yang sudah diinterpretasi oleh berbagai disiplin ilmu tertentu baik ilmu kedokteran, sosial dst. Maka menyoal realitas dengan fenomenologi adalah membiarkan hal itu (realitas itu) menampakkan diri sendiri tanpa interpretasi.
Fenomenologi yang sepertinya mampu menggali realitas tidak menutup kemungkinan bahwa pada akhirnya dia juga jatuh pada interpretasi. Karena pemahaman adalah lorong yang tidak pernah selesai dan akan terus digali. Maka menyoal realitas adalah menggali realitas itu sendiri. Dan belajar filsafat haruslah diawali dari sana.!!!

Thank’s, 05 Mei 2015